Kudeta Merangkak ("Creeping Coup")

Kudeta Merangkak — Cerah & Positif

Kudeta Merangkak ("Creeping Coup")

Halaman ini menjelaskan apa itu kudeta merangkak, mekanisme umum, contoh historis singkat, serta hal-hal penting lain yang perlu diketahui.

Apa itu "Kudeta Merangkak"?

Istilah ini merujuk pada perpindahan kekuasaan yang terjadi secara bertahap dari dalam sistem pemerintahan—bukan ledakan militer yang tiba-tiba—melainkan melalui manuver politik, perubahan aturan, pengangkatan tokoh kunci, atau kontrol media dan institusi. Kadang disebut juga slow coup atau creeping coup.

Mekanisme umum

  • Penempatan figur kunci (mis. kepala keamanan, pejabat tinggi) ke posisi strategis.
  • Kontrol media dan narasi publik untuk membentuk dukungan atau meredam kritik.
  • Perubahan aturan pemilu atau persyaratan pencalonan untuk melemahkan pesaing.
  • Penggunaan keadaan darurat, krisis, atau kebijakan keamanan untuk memperluas kekuasaan.
  • Jaringan patronase: aliansi dengan oligarki, birokrat, dan aparat keamanan.

Contoh historis (singkat)

Satu contoh yang sering dibahas para analis adalah transisi kekuasaan dari Boris Yeltsin ke Vladimir Putin akhir 1999—di mana pengunduran diri Yeltsin pada 31 Desember 1999 melahirkan Putin sebagai pejabat sementara yang kemudian menang pemilihan. Para sejarawan dan analis politik menyorot peran jaringan kekuasaan, institusi keamanan, dan kondisi politik pada masa itu sebagai faktor penting.

Referensi: laporan kronologi transisi Rusia 1999–2000 tersedia di Wikipedia & artikel analisis di jurnal politik internasional.

Contoh lain di dunia

  • Turki (2010-an): Perubahan konstitusi dan konsolidasi kekuasaan di bawah Recep Tayyip Erdoğan, yang awalnya muncul lewat koalisi demokratis lalu memperluas kewenangan presiden.
  • Hongaria (sejak 2010): Viktor OrbΓ‘n memperkuat kontrol atas media, peradilan, dan universitas dengan langkah bertahap — sering disebut oleh peneliti sebagai bentuk "illiberal democracy".
  • Filipina (anti-korupsi): Presiden Rodrigo Duterte naik dengan janji memberantas korupsi & narkotika, meskipun menimbulkan kontroversi dalam praktik penegakannya.

Perubahan sikap setelah berkuasa

Dalam beberapa kasus, figur yang berasal dari sistem lama (yang mungkin terkait praktik korup) justru kemudian tampil sebagai "anti-korupsi" atau melakukan pembenahan publik—yang bisa jadi nyata, sebagian, atau sekadar retorika untuk memperkuat legitimasi.

Studi kasus: di Georgia, Presiden Mikheil Saakashvili (2004) menerapkan reformasi besar anti-korupsi, termasuk membubarkan kepolisian lalu lintas yang terkenal korup dan membangun institusi baru dengan standar transparansi lebih tinggi. Langkah ini banyak dikutip sebagai salah satu contoh reformasi cepat yang berhasil.

Hal penting yang perlu diperhatikan

  • Institusi independen: fungsi peradilan, media, dan lembaga pengawas harus tetap kuat.
  • Transparansi: audit publik, akses informasi, dan kebijakan anti-korupsi yang nyata (bukan hanya slogan).
  • Peran masyarakat sipil: organisasi non-pemerintah, jurnalis, dan akademisi penting untuk mengawasi perubahan.
  • Perubahan aturan formal: perhatikan amandemen konstitusi atau aturan pemilu yang mendadak.
  • Jejak kebijakan: evaluasi apakah kebijakan yang diumumkan menghasilkan reformasi substantif atau hanya mengubah citra.

Contoh langkah pencegahan & respons

  • Memperkuat hukum tentang konflik kepentingan dan transparansi keuangan pejabat.
  • Mendukung media independen dan jurnalisme investigasi.
  • Membangun mekanisme pemilihan yang adil dan pengawasan internasional bila perlu.
  • Mengedukasi publik agar bisa membedakan retorika politik dari tindakan nyata.

Edit / Unduh

Comments

Popular posts from this blog

1 Seo Postingan Tabel

Terkunci Login, Batas Salah Password, & Reset Manual